Menteri Yohana: Telepon Genggam Sangat Mengganggu Proses Belajar Mengajar

loading...
Perkembangan teknologi tidak selamanya memberi dampak positif pada kehidupan termasuk dalam dunia pendidikan. Dalam kasus sederhananya ketika maraknya civitas pendidikan sibuk memainkan kecanggihan alat komunikasi sejenis handphone (telepon genggam). Seperti diketahui bahwa HP saat ini terkenal dengan telepon pintar karena dapat melakukan banyak fungsi sekaligus.

Keberadaan HP atau Smartphone sebenarnya sangat mendukung kemajuan seseorang karena dapat menjadi alat komunikasi, publikasi hingga transaksi. Demikian halnya pada bidang pendidikan, handphone (HP) dapat menjadi sarana vital yang menyambung komunikasi antara keluarga besar pendidikan baik itu tingkat daerah hingga pusat.
Baca juga Tips Cara Guru Mengajar Efektif dan Disukai Murinya
Sayangnya, HP akan menjadi bumerang apabila digunakan oleh orang yang tidak tepat atau belum saatnya, semisal usia pelajar.pendidikan dasar dan menengah. Kasus yang marak hari ini menjadi bukti bahwa siswa yang membawa HP ke sekolah rawan melakukan pelanggaran atau menjadi incaran tindak kriminal.

Tepat sekiranya pemerintah merancang aturan penggunaan telepon genggam (HP) khususnya di lingkungan sekolah. Hal ini tentu erat kaitannya dengan efektifitas proses belajar mengajar baik bagi peserta didik maupun bagi pendidik.

Seperti dikutip dari antaranews.com bahwa Pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak akan membatasi penggunaan telepon genggam selama belajar, baik di sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas atau sederajat.

"Peraturan bersama ini disusun dengan pertimbangan bahwa penggunaan telepon genggam selama proses pembelajaran sangat mengganggu proses belajar dan mengajar, serta berdampak negatif bagi anak bila menggunakan telepon genggam secara berlebihan," kata Menteri PP dan PA Yohana Yembise dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (29/2).


Menteri Yohana mengatakan, penyusunan peraturan bersama ini merupakan tindaklanjut dari Nota Kesepahaman tentang Informasi Layak Anak antara Kementerian PP dan PA, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama.

Menurutnya, peraturan ini dapat menjamin dan melindungi anak dari informasi yang berdampak negatif dan mengganggu perkembangan anak, sehingga anak dapat belajar secara optimal. Yohana juga menjelaskan bahwa penggunaan telepon genggam dapat menyebabkan anak malas belajar dan membuat anak lebih senang menyendiri serta tidak suka berkumpul dengan teman sebaya mereka.

"Dengan adanya peraturan ini, kami harapkan ada peningkatan, efektivitas, kreativitas, dan kemandirian proses pembelajaran peserta didik di satuan pendidikan serta menjadi pembinaan terhadap peserta didik maupun orang tua tentang bahaya penggunaan telepon genggam secara berlebihan," kata Menteri asal Provinsi Papua tersebut.
Berita lainnya : Guru Garis Depan Program Pemerataan Pendidikan Nasional
Peraturan bersama ini masih dibahas oleh tiga kementerian terkait untuk menyamakan persepsi mengenai substansi yang dimaksud. Selain itu, peraturan dibuat agar tidak bertentangan dengan hak anak untuk mendapatkan dan mencari informasi yang dijamin oleh pasal 10 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. (Sumber : ANTARA)

Memang uraian di atas masih wacana terkait rencana pemerintah menertibkan penggunaan telepon genggam atau HP, hal ini akan menjadi penguatan bagi pelaksana satuan pendidikan di manapun berada bahwa pemanfaatan alat komunikasi harus tetap dalam koridor yang benar. Harapannya, ulasan detikguru kali ini dapat dipahami dan diindahkan oleh masing individu yang bersinggungan langsung dengan pendidikan nasional. SEMOGA!
Menteri Yohana: Telepon Genggam Sangat Mengganggu Proses Belajar Mengajar
Ilustrasi Proses Pembelajaran di Kelas (Dok. Pribadi)
Share on FB Share on Tweet Share on G+
loading...