Evaluasi dan Implementasi Kurkulum 2013 untuk Tahun Pelajaran Baru

Kementerian Pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud ) telah tuntas dalam melakukan evaluasi pelaksanaan Kurikulum 2013. Berbagai media masa pun menyebutkan beberapa poin penting hasil evaluasi kurikulum yang akrab disebut K-13 tersebut. Kerangka besar perombakan K-13 di antaranya adalah komponen pada kompetensi inti dan kompetensi lainnya. Baca juga Retorika Kurikulum Baru, Selamat Datang Kurikulum Nasional

Dengan adanya evaluasi kurikulum 2013 atau Kurtilas ini, pemerintah harus mampu mendesain kurikulum berbasis nasional yang mencangkup keragaman budaya dan geografis di seluruh Indonesia. Kurikulum pendidikan nasional seharusnya juga responsive diterapkan di daerah terpencil dan tertinggal atau yang biasa disebut Daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal.

Penjelasan Hasil Evaluasi dan Implementasi Kurkulum 2013 untuk Tahun Pelajaran Baru

Mendikbud Anies Baswedan sendiri menegaskan bahwa K-13 tidak akan diganti karena evaluasi telah tuntas dan site plan penerapan untuk tahun ajaran baru telah siap diterapkan. Sebelumnya heboh beredar kabar pergantian nama K-13 menjadi Kurikulum Nasional (Kurnas) yang tertuang dalam buku Kilas Balik Kemdikbud. Namun, menteri Anies menjelaskan penggunaan k-n dengan huruf kecil bukan menunjukkan nama Kurikulum Nasional.

Dari hasil evaluasi K-13, tahun depan pemerintah mulai menerapkan Kurikulum 2013 untuk beberapa sekolah saja. Jumlah yang disebutkan mencapai 25 persen sekolah yang akan menggunakan K-13. Ini artinya Kurikulum sebelumnya yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006, perlahan dan secara bertahap akan digantikan menyeluruh untuk semua sekolah di wilayah NKRI.

Implementasi K-13 tahun ini sangat menekankan pada nilai karakter dan integritas kebangsaan, wajar bila Mendikbud Anies mendorong program penumbuhan budi pekerti di seluruh sekolah. Program penumbuhan budi pekerti ini sangat cocok dengan karakter luhur budaya bangsa Indonesia yang terkenal dengan kesantunan dan kearifan perilakunya.

Sementara penguatan index integritas pendidikan dititik beratkan pada penumbuhan sikap jujur yang dimulai dari bangku sekolah. Integritas kejujuran akan membentuk karakter generasi bangsa yang anti koruptor dan melahirkan generasi jujur yang tidak suka menilap hak orang lain. Apabila hasil evaluasi dan implementasi K-13 nantinya dapat berlangsung maksimal maka sudah dapat dipastikan calon pemimpin bangsa yang lahir dari sistem pendidikan tersebut akan menjadi pemimpin yang mengayomi rakyatnya.

Mendikbud juga menyebutkan sekolah yang menerapkan K-13 harus melalui verifikasi terlebih dahulu dan harus lolos.  Menteri Anies menyebutkan pada tahun 2015 ini sebanyak 6.000 sekolah telah menjalankan Kurikulum 2013. Targetnya pada tahun pelajaran 2019/2020 seluruh kelas di seluruh sekolah yang ada di Indonesia telah menggunakan K-13.

Dari data yang disampaikan Mendikbud di atas, penerapan K-13 nampaknya masih akan terus berlanjut dan pemerintah secara bertahap mendorong setiap sekolah untuk mengimplementasikan K-13 secara ideal. K-13 sebagai pengganti KTSP memang tahun ini tidak dapat diterapkan secara menyeluruh karena fakta di lapangan banyak sekolah yang menolak K-13 dengan berbagai alasan.

Evaluasi dan Implementasi Kurkulum 2013 untuk Tahun Pelajaran Baru
Ilustrasi Senyum Guru (DOK. PRIBADI)

Kesimpulannya, tahap evaluasi K-13 telah tuntas dan diharapkan bahan evaluasi yang dikumpulkan dapat menjadi solusi perbaikan sistem pendidikan nasional pada konteks kekinian. Problema pendidikan yang terus meningkat harus segera diminimalisir karena ini menyangkut karakter generasi bangsa yang lahir dari Rahim pendidikan nasional Indonesia. Selain juga peningkatan mutu pendidikan terus menjadi target agar bangsa Indonesia mampu bersaing dalam dunia pengetahuan di tingkat internasional dan diakui sebagaimana Indonesia kala dulu.

Sekilas prestasi putra-putri bangsa Indonesia memang sering menorehkan medali membanggakan bagi bangsa. Sayangnya, secara nasional pendidikan anak Indonesia masih tertinggal jauh dari negara lain bahkan dari Vietnam. Inilah yang menjadi progress ke depan agar pendidikan anak Indonesia dapat bersaing Internasional khususnya dengan Negara tetangga. Semoga!
Bagikan di WhatsApp, Twit, FB, G+