Etika Menuntut Ilmu

loading...
Keberhasilan transfer of knowledge juga sangat dipengaruhi oleh faktor kesiapan peserta didik dalam proses belajar mengajar. Tidak hanya pada institusi formal, suksesi pembelajaran dalam segala hal sangat bergantung daya dukung (intake) para penuntut ilmu. Hal ini dikarenakan subjek utama dalam menuntut ilmu adalah diri murid itu sendriri sebagai individu yang ingin mengupgrade intelektualitas dirinya. (Baca artikel lainnya : Landasan Mendidik dengan Cinta dan Keteladanan)

Peserta didik atau siswa seringkali out of track saat dirinya sedang berada dibangku pendidikan yang seharusnya menjadi focus hidupnya. Siswa sering terbuai oleh hegemoni perkembangan lingkungan sehingga apa yang menjadi kewajibannya terabaikan. Fenomena ini tidak terjadi pada usia tertentu saja, hampir merata mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa karena menuntut ilmu tidak dibatasi usia.

Agar proses penyerapan ilmu pengetahuan berjalan maksimal harus ada kaidah yang ditaati para pencari ilmu. Ada banyak etika dalam menuntut ilmu, namun setidaknya ada beberapa hal yang harus diindahkan yaitu niat, sabar dan ikhlas, santun, positif thinking dan percaya diri.

Penjelasan Beberapa Poin dalam Etika Menuntut Ilmu

Niat, harus menjadi prioritas utama setiap peserta didik sebelum dirinya benar-benar terjun menuntut ilmu. Dengan niat yang benar sudah pasti akan lebih memudahkan para siswa dalam mengetahui tujuan dirinya belajar dan berlatih. Niat yang lurus karena mengharap keridhoanNya semata dalam upaya menambah kualitas keilmuan seseorang akan melabuhkan dirinya pada derajat manusia yang mulia krena memiliki ilmu yang bermanfaat.

Sabar dan Ikhlas, perjalanan hidup di dunia ini tidak terlepas dari berbagai uji dan cobaan baik itu yang berupa kebahagiaan maupun penderitaan. Demikian halnya jalan hidup seorang pembelajar akan sentiasa menghadapi aral rintangan yang menguji kekuatan dan keteguhan hatinya menuntut ilmu. Tidak jarang siswa yang sudah tekun belajar tetapi hasil yang diperolehnya selalu gagal, maka satu hal yang harus dipahami bahwa kegagalan adalah bagian dari ujian untuk meraih sukses di esok hari.

Santun, inilah yang mulai terkikis dalam diri sebagian besar generasi umat manusia yang nota bene statusnya para peserta didik. Banyak murid yang lupa pada siapa gurunya bahkan orang tuanya sendiri yang merupakan guru sejati pun sering diabaikan. Hilangnya sikap santun akan merusak harmonisnya kegiatan belajar-mengajar karena murid sudah tidak lagi menghargai orang yang telah memberinya ilmu kehidupan ini.

Positif thinking, jangan salahkan gurunya ketika menemukan lulusan atau alumni sekolah berlabel terbaik dan religius justru menjadi beban masyarakat karena krisis moralnya. Boleh saja ketika masa studinya sang murid memang sudah menanamkan hal-hal negative dalam mainstreamnya. Sehingga ilmu yang diperolehnya selalu dikait-kaitkan dengan hal-hal yang tidak terpuji sekedar demi memenuhi ambisi hidupnya.

Percaya diri, pokok keberhasilan menuntut ilmu juga didukung oleh rasa percaya diri dalam mengejar butir-butir ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang sulit apapun itu bila diyakini dengan kuat akan mampu dikuasai juga. Layaknya batu karang yang begitu keras seiring waktu akan terkikis habis oleh lembutnya belaian air samudra.
Penjelasan Beberapa Poin dalam Etika Menuntut Ilmu
Belajar di Kelas (DOK. PRIBADI)

Mungkin masih ada etika menuntut ilmu lainnya yang belum mampu teruraikan di laman sederhana ini. Harapannya pada kesempatan lain dapat ditambah dan lebih diperbaiki artikel ini agar lebih bermanfaat bagi rekan pembaca khususnya insan pencari ilmu. Karena dengan menghasilkan karya-karya sederhana itulah kemudian muncul hal-hal spektakuler dari hasil niat, sabar, santun, positif thinking dan confident.
Share on FB Share on Tweet Share on G+
loading...