Refleksi Nasib Guru Detik Ini, 13 Desember 2015

Guru merupakan sosok bersahaja yang keberadaannya sangat dibutuhkan masyarakat baik secara individual maupun berskala sosial. Hampir dapat dipastikan bahwa setiap yang hidup memiliki guru yang memberikan pedoman dan petunjuk. Dan manusia sebagai makhluk mulia sepantasnya memiliki guru serta siap menjadi guru bagi diri sendiri dan masyarakat pada umumnya.

Ironis memang jika detik ini masih banyak terdapat guru yang hidup dalam keterbatasan hanya karena statusnya yang belum PNS. Sungguh tidak terhitung jumlah guru yang berprofesi sebagai pendidik di sekolah hidupnya kekurangan dengan honorarium ala kadarnya. Sementara, sepanjang karinya guru telah mencetak generasi-generasi hebat bahkan pejabat yang menguasai kebijakan negeri ini.

Bertepatan dengan HUT PGRI ke-70 pada hari ini, 13 Desember 2015 kita dapat melihat potret para teachers yang berkumpul semarak merayakan Hari PGRI. Lagi-lagi suatu pesan moral yang harus diperhatikan ketika pertemuan akbar tersebut, para guru kembali menyuarakan aspirasinya dalam menagih janji pemerintah untuk menyejahterakan nasib para guru bangsa ini.

Memang tidak semua guru hidup dalam keterbatasan, banyak juga yang sukses berkarir sebagai pendidik dengan berbagai tunjangan dan fasilitas yang ada. Pemerintah sudah mengeluarkan banyak dana untuk alokasi kesejahteraan guru, mulai dari sertifikasi, tunjangan profesi, insentif, beasiswa penelitian dan banyak lainnya.

Lalu mengapa masih ada guru yang belum sejahtera? Inilah yang harus dicermati karena pada dasarnya para guru mengajar tanpa pamrih. Sehingga dibayar atau tidak mereka tidak terlalu menuntutnya terutama guru yang hidup di daerah terpencil. Boleh dibilang pemerataan pendidikan menjadi titik sentral permasalahan yang harus diselesaikan.

Refleksi Kehidupan Nasib Guru Terkini

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan sendiri telah mengatakan bahwa guru adalah ujung tombak yang keberadaannya sangat dinanti masyarakat. Ini artinya guru sebagai penggerak pendidikan harusnya diprioritaskan jika ingin membangun kecerdasan rakyat negeri ini. Para guru harus hidup sejahtera agar mereka dapat focus mengembangkan profeisonalismenya sebagai tenaga pendidik.

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin juga memiliki statement bahwa pemilik saham terbesar pendidikan adalah para guru. Maka pantas jika para guru hidup makmur dengan ilmu yang telah dimiliki dan diberikan gratis kepada para peserta didiknya. Nah bagi para murid inilah yang juga ikut memikirkan keberlangsungan profesi gurunya kala dirinya telah menjadi pejabat publik.

Pendidikan Indonesia pada awalnya sangat disegani dan diakui oleh negara-negara tetangga, bahkan banyak para wisatawan dating ke Indonesia untuk menuntut ilmu. Ada juga yang membuat perjanjian kontrak dengan para guru di negeri ini untuk menjadi pendidik di negeri mereka. Hasilnya pun luar biasa, kini negeri kita tercinta ini boleh dikatakan tertinggal jauh kualitas pendidikannya bila dibandingkan beberapa Negara ASEAN saja.

Satu hal pokok yang harus digaris bawahi bahwa teacher as a behavior person harus memiliki marwah agar dihormati para muridnya. Pemerintah dan masyarakat saling membahu untuk memperhatikan kelayakan hidup para guru. Sebisa mungkin segala yang menjadi kesulitan guru dan itu akan menghambat karirnya sebagai pendidik, harus segara diselesaikan kalo sekedar berurusan dengan materi dan kebutuhan pokok sehari-hari. Selain itu, guru juga harus mendapat jaminan kesehatan sehingga mereka tidak perlu cemas dengan biaya kesehatan saat ini yang terbilang setinggi langit.

Refleksi Nasib Guru Detik Ini, 13 Desember 2015
Lingkar Ilmu (DOK. PRIBADI)

Semoga dengan refleksi hari PGRI yang ke-70 kali ini dapat mendorong kita semua untuk menempatkan para guru pada posisi yang selayaknya. Guru adalah pelita hidup yang sangat dirindukan cahayanya oleh setiap insan dalam menapaki perjalanan hidup di dunia ini. Marilah menjadi guru yang baik bagi diri sendiri, keluarga, tetangga dan lingkungan masyarakat luas.

Tujuannya, agar tatanan kehidupan ini berotasi pada sumbu yang menitik-beratkan ilmu dan keteladanan para guru bangsa yang mulia. Niscaya, kehidupan masyarakat berilmu lebih bermartabat dan mulia seiring dengan keluhuran budi pekertinya. Serta, diperkuat oleh landasan spiritualitas yang hanya bersandar pada sang Pencipta kehidupan ini. Share on FB Share on Tweet Share on G+